Sejak SD Remaja 13 Tahun, Taklukan Gunung Ciremai dan Slamet

- Minggu, 20 Maret 2022 | 20:44 WIB
 Qonnita Allica Fauziah ,remaja asal Desa Citangtu, Kecamatan/Kabupaten Kuningan saat di Gunung Slamet, Jawa Tengah. (Dok. Allica)
Qonnita Allica Fauziah ,remaja asal Desa Citangtu, Kecamatan/Kabupaten Kuningan saat di Gunung Slamet, Jawa Tengah. (Dok. Allica)

CIREMAINEWS.COM , Kuningan - Salah satu gunung yang menjadi favorit para pencinta hiking adalah Gunung Ciremai (TNGC). Gunung tertinggi di Jawa Barat ini menjadi tujuan utama bagi rimbawan di Jawa Barat dan sekitar untuk menjelajah dan menempa mental saat bertualang di alam bebas.

Tak hanya orang tua, pendaki muda pun ikut jelajahi atap Jawa Barat ini. Seperti yang dilakukan Qonnita Allica Fauziah, remaja asal Desa Citangtu, Kecamatan/Kabupaten Kuningan, telah berpetualang sejak kelas 4 Sekolah Dasar.

" Waktu itu, Saya masih berumur 10 tahun, diajak sama ibu, kakak, dan keluarga lainnya," terang Allica, putra dari pasangan Sutisna dan Nani.

Baca Juga: Rasi Macan Tutul Jawa, Siap Dikawinkan dengan Sang Raja Rimba Ciremai

Remaja yang kini berusia 13 tahun, menuturkan kisahnya saat pertama kali menapakan kakinya di gunung yang memiliki ketinggian 3078 meter dpl. "Sempat trama saat naik, pas di atas puncak Saya nangis karena kedinginan. Lihat tangan udah merah terus kayak mau keluar darah," ungkapnya.

Dikatakan gadis yang memiliki tinggi 163 cm ini, keluarganya segera bertindak saat ia kedinginan. "Karena waktu itu sama keluarga, jadi Allica langsung dikasih jaket sama selimut biar hangat lagi. Tapi tetep Allica minta cepat turun,sambil nangis," tuturnya sambil tersipu malu.

Di tengah perjalanan mendaki Gunung Ciremai, Jawa Barat.
Di tengah perjalanan mendaki Gunung Ciremai, Jawa Barat. (Dok. Allica)

Meski sempat alami trauma, namun dua tahun kemudian Allica kembali berjelajah. Kali ini gunung yang didakinya adalah Gunung Slamet, Provinsi Jawa Tengah yang memiliki ketinggian 3.432 meter dpl.

"Habis naik Gunung Ciremai sempet trauma. Tapi pas kelas 6 diajakin hiking lagi ke Gunung Slamet, karena kayak kecanduan gitu," katanya.

Dikatakan Allica, rasa lelah dan berat saat mendaki akan terbayar sekaligus ketika sampai di puncak gunung. "Memang lelah sih, tapi begitu sampai di puncak gunung. Rasa capainya hilang semua dengan melihat indahnya samudra awan dan dinginbya badai. Jadi setelah sudah turun, pengen naik lagi," ujarnya.

Baca Juga: Dikabarkan Hilang Kontak Secara Misterius Di TN Gunung Ciremai. Pelajar SMK Kirim Pesan Suara

Kini bagi siswi SMP Negri 1 Kuningan ini, menjelajah alam sudah menjadi hobinya. Puluhan destinasi alam telah ia jelajahi. "Jadinya aku setiap dua minggu sekali suka hiking, kalau enggak badan tuh kayaknya pada pegal - pegal," kata remaja yang memiliki paras cantik ini

Beberapa wilayah kerap Ia sambangi, diantaranya Talaga Surian, Cidadali, Pasir Batang, Cigowong, Lempong Balong, Gunung Putri, Bukit Seribu Bintang, Kopi Tandjak dan puluhan destinasi lainnya yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. "Ya, semuanya kadang jalan kaki," sambungnya.

Saat menjelajahi rimba, tak lupa Allica pun membawa kantong untuk tempat sampah. "Iya pas mendaki gunung atau hiking, Aku bawa tempat minum dan bawa sampah untuk diangkut kembali ke kota dan dibuang ke tempatnya," tutur remaja yang lebih memilih hiking dibanding ujian matematika.

Halaman:

Editor: Andini Rahmawati

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X