• Kamis, 1 Desember 2022

Dari SUPERSEMAR, SUPERPETRUK hingga SUPERSAMAR

- Sabtu, 12 Maret 2022 | 23:27 WIB
Surat Perintah 11 Maret
Surat Perintah 11 Maret

Berawal dari 9 maret 1966, pengusaha terkaya saat itu Dasaat dan Hasyim Ning menemui Presiden Soekarno umtuk membujuk segala urusan kekuasaan kepemerintahan sehari-hari diserahkan kepada Soeharto.

Mereka berdua diutus oleh Ratu Alamsyah Prawiranegara yang dibekali draf keterangan, tetapi Soekarno murka sampai melempar asbak yang didekatnya.

Hingga pada tanggal 11 maret 1966, Soekarno melantik Kabinet Dwikora tetapi batal karena mahasiswa berdemo didepan istana, yang lebih mengerikan lagi, demo tersebut didukung dan dikawal oleh Kostrad yang dipimpin oleh Kemal Idris.

Baca Juga: Dua Tahun Hilangnya Aset Gedung Kesenian Kuningan

Ketiga jenderal (Brigjen M. Jusuf, Brigjen Amir Machfud dan Mayjen Basoeki Rahmat) menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor untuk mengeluarkan surat perintah.

Setibanya di Istana Bogor jam 12.00 WIB, mereka menunggu tidur siang Bung Karno sampai jam 14.30 WIB. Ketiga jenderal tersebut mendesak agar Soekarno mengeluarkan Surat Perintah dan M. Jusuf memohon untuk menyetujuinya dan Soekarno terpaksa menandatangi Surat Perintah Tersebut.

Penulis Raden Yusuf Maulana.

Sore menjelang malam, 3 Jenderal (Brigjen M. Jusuf, Brigjen Amir Machfud dan Mayjend Basoeki Rahmat) menemui Soeharto karena tidak mengikuti rapat dikediamannya di Jl. Agus Salim (Sekarang Jl. Cendana) untuk mengantarkan Surat Perintah yang di tandatangani oleh Soekarno.

Ke-esokan harinya 12 Maret 1966, Soeharto langsung membubarkan PKI yang membuat Soekarno menganggap bahwa Supersemar itu disalahgunakan oleh Soeharto sebagai dalih pengambilalihan kekuasaan hingga tanggal 14 maret 1966 Soekarno tidak mendapatkan kekuasaannya karena masyarakat lebih percaya terhadap Soeharto dan TNI yang berimbas pembubaran Tjakrabirawa pada tanggal 28 Maret 1966.

Halaman:

Editor: Andini Rahmawati

Tags

Terkini

X